Pages

Minggu, 10 Maret 2013

Mungkinkah Indonesia Memutuskan Hubungan dengan AS


Mungkinkah Indonesia memutuskan hubungan dengan AS? 
(strategi dan dampak sosial-ekonominya)

Sejak era orde baru sampai saat ini Indonesia tengah dihadapkan dengan berbagai persoalan terkait dengan sistem pemerintahan dan pembangunannya. Sistem pemerintahan Indonesia di era reformasi ini dianggap telah gagal. Terbukti dengan banyaknya fakta yang mencerminkan  bahwa Indonesia belum mampu menjalankan sistem pemerintahan dengan baik. Sebagai contoh  kasus korupsi yang telah menjadi sebuah budaya, eksploitasi sumber daya alam oleh Negara asing, kemiskinan yang belum teratasi sampai saat ini, jumlah pengangguran yang terus meningkat, impor bahan makanan pokok (kedelai dan beras), dsb. Sudah 67 tahun Indonesia merdeka, tapi masih terasa dijajah oleh Negara Asing. Kegagalan Indonesia dalam menjalankan sistem pemerintahannya ternyata dimanfaatkan oleh Amerika Serikat (AS). Pasca presiden Soekarno, Indonesia berada dalam cengkeraman asing (Amerika), pemerintahan Orde Baru berada di bawah kendali Amerika, melalui lembaga-lembaga internasional-nya seperti IMF, Bank Dunia, USAID (wardaya, 2008). Ditengah kondisi yang tidak karuan ini, AS hadir menawarkan berbagai bantuan untuk Indonesia. Mulai dari IMF,  World Bank, dan USAID (United States Agency for International Development). AS selalu ingin ikut campur dengan berbagai urusan Indonesia, dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, dsb. Memang tidak dipungkiri bahwa AS memberikan bantuan yang sangat besar terhadap Indonesia, dalam proses pembangunannya. Seperti yang dikatakan oleh Sumawinata (dalam Suwarsono dan So, 1984) bahwa dalam percepatan dan perluasan pembangunan industrialisasi, Indonesia banyak membutuhkan bantuan modal dan tekhnologi asing. Tekhnologi dalam berbagai proses produksi untuk memudahkan dalam proses produksi. Peningkatan penggunaan tekhnologi dalam berbagai bidang mengakibatkan minimnya penggunaan tenaga kerja manusia. Ketergantungan terhadap luar negeri telah menghasilkan pula keputusan untuk menerapkan tekhnologi produksi yang tidak proburuh di sektor pertanian tradisional yang surplus tenaga kerjanya, yang sudah berakumulasi sejak puluhan tahun (Arief dan Sasono, 1984). Penggunaan tekhnologi dalam sector pertanian misalnya penggunaan traktor. Dahulu pembajakan sawah menggunakan tenaga kerbau, tetapi sekarang banyak yang menggunakan traktor karena lebih mudah dan efektif.
Bantuan modal yang diberikan oleh AS untuk Indonesia tidak sedikit sehingga Indonesia merasa berhutang budi kepada AS, sikap seperti inilah yang menjadikan Indonesia selalu bergantung kepada Negara adikuasa tersebut. Seolah-olah Indonesia tidak bisa hidup tanpa AS. Indonesia dan Amerika Serikat ibarat kelas proletar dan kelas borjuis. Kelas proletar (Indonesia) dikuasai kelas borjuis (AS) yang menyebabkan kelas proletar menjadi tergantung dengan kelas borjuis yang memiliki modal yang kuat (Martono, 2011).
Dengan ketergantungan Indonesia terhadap AS menjadikan Indonesia sulit berkembang dalam pembangunan dan menghambat proses menuju Indonesia mandiri. Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, seharusnya Indonesia sudah mampu menjalankan sistem pemerintahan dengan baik. Tapi yang terjadi saat ini malah sebaliknya, sistem pemerintahan yang ketergantungan. Menurut Dos Santos (dalam Arief dan Sasono, 1984) ada tiga jenis ketergantungan, pertama ketergantungan Kolonial ditandai dengan hubungan perdagangan ekspor, kedua ketergantungan industri keuangan dengan adanya investasi bahan mentah primer untuk tujuan konsumsi , dan ketiga ketergantungan tekhnologi industri melalui investasi di sektor-sektor industri oleh Negara yang memiliki modal besar. Negara Indonesia selalu mengandalkan bantuan dari AS. Hutang Indonesia kepada AS juga terbilang tidak sedikit lagi, hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai boneka Amerika dan mau tidak mau Indonesia harus tunduk kepada AS.
Indonesia dan amerika mempunyai hubungan yang sangat erat bahkan ketergantungan dalam berbagai bidang termasuk bidang ekonomi, sebagai contoh perpanjangan masa kontrak PT. Freeport oleh AS. Padahal sudah jelas bahwa didalam proyek Freeport tersebut Indonesia hanya mendapatkan keuntungan yang kecil dibandingkan keuntungan yang diperoleh oleh AS. Pihak yang menikmati keuntungan yang ditimbulkan oleh investasi asing ini, hanya terdiri dari segelintir kecil anggota masyarakat dan keuntungan ini diperoleh dari hasil suatu proses eksploitasi (Arief dan Sasono, 1984). Eksploitasi lahan dan kerusakan lingkungan juga menjadi dampak negatif yang harus diderita oleh masyarakat papua. Indonesia seolah-olah menutup mata dalam persoalan tersebut, dengan terus membiarkan AS mengeruk kekayaan alamnya dan membiarkan rakyatnya menderita.
Di era modernisasi seperti saat ini persaingan antar Negara sangat ketat. Masing-masing Negara menunjukkan eksistensinya di dunia dengan menampilkan perkembangan-perkembangan negaranya.
Indonesia harus bisa melepaskan diri dari AS strateginya dengan membenahi system pemerintahan Negara, memberantas berbagai tindakan korupsi, memaksimalkan potensi SDA, meningkatkan perekonomian Negara, mengurangi impor bahan makanan, dan bangga akan produk dalam negeri. Untuk melepaskan diri dari cengkeraman AS mungkin memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu dan proses panjang untuk mewujudkan hal itu. Karena seperti yang kita ketahui bahwa selama ini AS telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia. Dibutuhkan pemimpin yang tegas dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Jiwa kepemimpinan tersebut seperti yang dicontohkan oleh presiden pertama Indonesia Soekarno. Landasan kepemimpinan Soekarno dibangun atas dasar nasionalisme, Islam dan Marxisme. Nasionalisme yang tumbuh dalam dirinya telah menanamkan rasa persatuan dan cinta Tanah Air sekaligus menjadikan dirinya menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, sementara ideologi Marxisme yang dikembangkannya membuat dirinya memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet dan menanamkan jiwa anti hegemoni dan imperialisme Barat (wardaya, 2008). Sekarang ini indonesia membutuhkan jiwa kepemimpinan seperti Soekarno yang cinta dan bangga akan bangsanya. Soekarno telah membawa Indonesia dikenal dan disegani oleh Negara-negara asing, dan soekarno mampu memimpin Indonesia dengan baik. Upaya pemberantasan korupsi juga harus terus digalakkan. Pendidikan tentang korupsi sebisa mungkin ditanamkan sejak dini, sejak masih anak-anak supaya tidak menjadi generasi penerus bangsa yang korup.
Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam, sumber daya alamnya melimpah. Tetapi pemanfaatan SDA masih sangat minim, untuk itu terus gali dan tingkatkan kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah guna peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. SDMpun juga harus terus ditingkatkan, mengingat banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia. Peningkatan SDM dimaksudkan untuk melahirkan generasi-generasi yang kompeten dan mampu bersaing terutama dalam dunia kerja.

0 komentar:

Posting Komentar