Pages

Senin, 11 Maret 2013

kuliner khas Purworejo



7 KULINER KHAS PURWOREJO
Kabupaten Purworejo (Jawa:purwareja), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota berada di kota Purworejo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang di utara, Kabupaten Kulon Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di timur), Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Kebumen di sebelah barat.
Purworejo memiliki beberapa makanan khas yang siap memanjakan lidah Anda. Ini nih beberapa produk kuliner khas Purworejo :

1. Dawet Ireng/dawet hitam
Sejenis cendol berwarna hitam yang biasanya disajikan dingin bersama ketan hitam, juruh, dan tape dengan mangkuk kecil. Yang paling terkenal ialah dawet hitam dekat jembatan Butuh.








2. Geblek

Sejenis makanan goreng yang bentuknya bulat kecil mirip gelang atau setengah angka 8. Tidak heran kalau masyarakat sana sering menyebut panganan itu dengan nama gelangan. Makanan yang terbuat dari tepung singkong itu rasanya sangat gurih.







3. Krimpying/Lanting


Panganan khas yang satu ini masih sejenis gorengan yang berbahan dasar singkong dan warnanya krem. Bentuknya bulat-bulat berlubang tengah seperti geblek. Namun kalau krimpying lebih keras dan kremes-kremes. Kalau yang agak kecil bentuknya mirip cincin biasanya disebut dengan nama lanting. Panganan khas Purworejo yang satu ini termasuk jenis panganan yang tahan lama. Jadi bisa dibawa buat oleh-oleh.


4. Kue Lompong
Kue basah manis dengan bulir kacang di dalamnya.Yang bikin unik panganan yang satu ini karena dibungkus menggunakan daun pisang kering yang sering disebut klaras. Konon warna hitam pada kue lompong ini berasal dari tanaman lompong. Tepatnya dari batang lompong yang dilumatkan dan dicampur pada adonan kue. Uniknya lagi pada setiap gigitan kue lompong ada suatu rasa sangat khas yang terasa di lidah kita. Itulah rasa klaras yang menjadi pembungkusnya.

5. Clorot
Panganan khas Purworejo yang satu ini terbuat dari tepung beras dan gula merah yang dimasak dalam pilinan daun kelapa yang masih muda (janur kuning). Bentuknya seperti terompet kecil yang dibalut janur kuning, rasanya manis hampir seperti wajik atau dodol.





6. Rengginang

Panganan khas Purworejo yang satu ini termasuk jenis panganan gorengan yang terbuat dari ketan yang dimasak. Bentuknya bulat unik dan agak gepeng.






7. Cenil
Panganan khas Purworejo yang satu ini dibuat dari pati ketela pohon (tepung kanji). Bentuknya bulat-bulat kecil seperti kelerang. Biasanya ada warna-warni dan bertabur dengan parutan kelapa yang manis. Saat dimakan akan terasa manis dan kenyal. Biasanya dibungkus dengan daun pisang. Panganan ini bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional Purworejo.


selamat mencoba yaaaaa........

makalah pemberdayaan masyarakat (krimpying Yu Kas khas Purworejo)


LATAR BELAKANG
Di Era globalisasi seperti sekarang ini setiap Negara dituntut untuk menjadikan kondisi kehidupan ekonominya menjadi semakin efektif, efisien, dan kompetitif. Indonesia merupakan Negara berkembang yang terus mengupayakan pembangunan. Tujuan dari pembangunan adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan inovasi di dalam masyarakat tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan gagasan-gagasan, penerapan tekhnologi terkini yang mendukung program pembangunan, dan strategi yang tepat dalam memberdayakan dan menumbuhkan UKM (Usaha Kecil Menengah) yang nantinya mampu menjadi kekuatan ekonomi nasional. Strategi pembangunan di Indonesia dimulai dengan peningkatan pemerataan pembangunan di daerah pedesaan. Masyarakat sebagai subyek pembangunan harus memiliki kesadaran untuk memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik.
Wilayah pedesaan selalu dicirikan dengan rendahnya tingkat produktivitas kerja, tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas hidup dan pemukiman. Pedesaan dianggap sebagai daerah yang tertinggal, miskin, dan pembangunannya lambat karena jauh dari pusat pemerintahan. Padahal sebenarnya kawasan pedesaan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, hanya saja belum dimanfaatkan dengan maksimal. Masyarakat desa masih menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian, dan bergantung pada alam (musim). Pengembangan potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya masih sangat minim. Hal tersebut dilatar belakangi oleh faktor pendidikan yang rendah, minimnya modal untuk pengembangan, dan anggapan bahwa masyarakat desa adalah masyarakat yang miskin yang hidup dengan sederhana dan kemiskinan tersebut merupakan warisan dari nenek moyangnya. Indonesia merupakan Negara agraris, dan pedesaan merupakan pusat perekonomian rakyat. Saat ini Indonesia dalam fase berkembang, untuk itu potensi-potensi yang dimiliki harus terus dikembangkan. Terutama potensi yang ada di desa yang selama ini masih belum optimal pengembangannya. Desa memiliki dua potensi yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangannya, yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kedua sumber daya tersebut harus saling mendukung dan melengkapi, pengembangan sumber daya alam harus dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusianya.
Kegiatan pengembangan masyarakat merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan suatu kelompok tertentu di suatu daerah. Pengembangan masyarakat tersebut biasa dikenal dengan istilah pemberdayaan (empowerment) masyarakat. pemberdayaan berpusat pada rakyat sehingga rakyat berperan aktif dalam proses pembedayaan tersebut. Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri, mampu menggali dan memanfaatkan potensi-potensi yang ada didaerahnya, dan membantu masyarakat untuk terbebas dari keterbelakangan atau kemiskinan. Setiap desa memiliki potensi, kondisi daerah, dan karakteristik masyarakat yang berbeda-beda. Intinya bahwa masing-masing desa memiliki ciri khas yang berbeda dengan desa lainnya. Untuk itu dalam upaya pemberdayaan, masyarakat desa setempat harus lebih banyak terlibat dalam kegiatan tersebut. Karena masyarakatnya lebih mengetahui potensi dan kondisi desanya. Pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator yang mendukung program pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, karena yang menjadi subyek dari pemberdayaan adalah masyarakat desa itu sendiri.
Beberapa tahun belakangan ini sudah ada beberapa program pemberdayaan masyarakat. sebagai contoh PNPM Mandiri, BLT (Bantuan Langsung Tunai), kredit untuk usaha mikro, dan home industry (industri rumah). Program pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk menciptakan manfaat sosial, melalui proyek-proyek padat karya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh keuntungan dari hasil usaha mereka. Usaha dalam pemberdayaan masyarakat tiap desa berbeda-beda, karena memang masing-masing desa memiliki ciri khas dan potensi yang berbeda. Salah satu contoh pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Purworejo adalah home industry “krimpying Yu Kas”. Krimpying merupakan salah satu makanan khas di Purworejo berbahan dasar ketela, yang telah berhasil dikembangkan oleh masyarakat di Desa Bugel, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

PEMBAHASAN
Saat ini pembangunan tidak lagi berpusat pada pemerintah, tetapi lebih terpusat pada masyarakat. Dan diharapkan mampu menciptakan kemampuan bagi masyarakat untuk membangun diri mereka sendiri melalui Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDL). PSDL merupakan mekanisme perencanaan people centered development yang menekankan pada tekhnologi social learning (proses belajar sosial) dan strategi perumusan program yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengaktualisasikan diri mereka (empowerment) (Tjokroaminoto, 1996).
Ada beberapa definisi mengenai konsep pemberdayaan. Menurut Ife (dalam Martono, 2011) mendefinisikan konsep pemberdayaan masyarakat sebagai proses menyiapkan masyarakat dengan berbagai sumber daya, kesempatan, pengetahuan, dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri masyarakat di dalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan memengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri. Kartasasmita (1995), mengemukakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Intinya bahwa pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk melahirkan masyarakat yang mandiri dengan menciptakan kondisi yang memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. Setiap daerah memiliki potensi yang apabila dimanfaatkan dengan baik akan membantu meningkatkan kualitas hidup mereka dan melepaskan diri dari keterbelakangan dan ketergantungan. Masyarakat memiliki peranan penting dalam upaya pemberdayaan masyarakat tersebut, karena masyarakat merupakan subyek dari pemberdayaan. Jadi pemberdayaan masyarakat tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Purworejo merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, diantaranya ada petani sawah, petani tembakau, dan petani ketela. Karena sebagian besar lahannya merupakan lahan pertanian. Petani tembakau adalah mereka yang tinggal didaerah dataran tinggi, apabila petani ketela ada yang didaerah dataran rendah dan ada pula yang berada didaerah dataran tinggi. Purworejo memiliki beberapa jenis makanan khas, diantaranya adalah kue lompong, krimpying atau lanting, clorot, dan dawet hitam. Banyak masyarakat purworejo yang memproduksi dan memasarkan makanan-makanan tersebut. Salah satu makanan khas purworejo yang sudah dikembangkan adalah krimpying atau lanting. Krimpying adalah makanan yang terbuat dari ketela yang dibentuk seperti cincin dan digoreng yang rasanya gurih dan agak keras. Pengrajin krimpying rata-rata adalah mereka yang tinggal di daerah Bagelen dan Krendetan. Ada beberapa industri-industri rumah yang memproduksi krimpying, tetapi yang paling terkenal adalah krimpying “Yu Kas”. “Yu Kas” adalah sebuah industri rumahan yang memproduksi dan memasarkan krimpying yang terletak di Desa Bugel, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Nama “Yu Kas” diambil dari nama pemiliknya yaitu Ibu Kasminah.
Industri pembuatan krimpying tersebut dimulai sejak tahun 1997, saat ini krimpying Yu Kas memiliki 25 orang tenaga kerja, 20 orang sebagai tenaga tetap dan 5 orang sebagai tenaga bantu. Tenaga kerjanya ada yang berasal dari desa bugel itu sendiri, dan ada yang berasal dari desa bapangsari. Ada dua produk krimpying atau lanting dari Yu Kas, yaitu Krimpying Yu Kas dan lanting Caca. Bahan dasar pembuatan krimpying adalah ketela, dan bumbunya diantaranya bawang putih, kemiri, dan garam. Cara pembuatan krimpying tersebut yaitu pertama ketela dikupas, lalu dicuci, diparut. Kemudian dipres untuk dipisahkan antara ketela dan airnya. Setelah itu 1/3 dari adonan tersebut dikukus, dan 2/3nya dibiarkan mentah. Lalu kedua adonan tersebut dicampur menjadi satu, menggunakan molen. Kemudian dibentuk seperti cincin, digoreng, dikeringkan, lalu dikemas.
Dalam satu hari ada 5 kwintal krimpying yang dipasarkan, dan pemasarannya di daerah Purworejo, Kutoarjo, Wates, Yogyakarta, dan daerah Jawa Tengah. Krimpying Yu Kas berasal dari desa Bugel, yang kemudian dijadikan slogan oleh Yu Kas yang artinya Bersih Utuh Gurih Enak Lezat. Harga dari krimpying Yu Kas terbilang murah  dan terjangkau. Untuk satu bungkusnya dijual dengan harga Rp 7000,00.

                 
Krimpying Yu Kas merupakan salah satu contoh kesuksesan program pemberdayaan masyarakat, dengan mengembangkan produk khas dari daerahnya yaitu Kabupaten Purworejo. Bahan baku pembuatan krimpying juga mudah didapat, karena memang didaerah Purworejo banyak terdapat pohon ketela. Mudahnya cara mendapatkan bahan baku membuat produksi krimpying menjadi mudah. Diantara beberapa makanan khas di Purworejo, krimpying merupakan salah satu produk unggulan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pengembangan usaha tersebut membutuhkan perhatian dari pemerintah. Saat ini usaha krimpying Yu Kas telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, yaitu dari Dinas Perindag Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Perindagkop Kabupaten Purworejo dengan melaksanakan pendampingan GMP (Good Manufacturing Practice). GMP adalah suatu pedoman yang menjelaskan bagaimana memproduksi makanan agar bermutu, dan layak untk dikonsumsi dan berisi penjelasan-penjelasan tentang persyaratan minimum dan pengolahan umum yang harus dipenuhi dalam penanganan bahan pangan di seluruh mata rantai pengolahan dari mulai bahan baku sampai produk akhir (http://www.purworejokab.go.id).
Pendampingan GMP tersebut dilakukan dengan melakukan pengamatan dari awal produksi yaitu persiapan bahan baku sampai proses pengepakan. Dan mengamati para pekerja, tempat dan cara kerjanya. GMP bertujuan untuk memberikan standar produk yang baik dengan melalui pengendalian mutu produk. Hal tersebut akan sangat membantu usaha krimpying Yu Kas untuk terus berkembang karena pihak pemerintah sudah memberikan suatu bentuk perhatian. Usaha Yu Kas harus terus melakukan perbaikan untuk menciptakan produk dan mutu yang terbaik. Saat ini pemasarannya hanya didaerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Untuk kedepannya harus diperluas lagi daerah pemasarannya, misal ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan sebagainya.
Diharapkan usaha krimpying Yu Kas tersebut dapat menjadi contoh dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dan dijadikan pedoman untuk usaha lainnya khususnya didaerah Purworejo. Karena banyak dari sumber daya alam di daerah Purworejo yang belum dimanfaatkan dengan baik. Upaya pemberdayaan masyarakat memang harus dilakukan secara bertahap. Proses pemberdayaan tersebut bisa dilakukan melalui tiga fase, yaitu:
a.       Fase Inisiasi, bahwa semua proses pemberdayaan berasal dari pemerintah dan masyarakat hanya melaksanakan apa yang direncanakan dan diinginkan oleh pemerintah dan tetap tergantung oleh pemerintah.
b.      Fase Partisipatoris, bahwa proses pemberdayaan berasal dari pemerintah bersama masyarakat, oleh pemerintah dan masyarakat, dan diperuntukkan bagi rakyat.
c.       Fase Emansipatoris, proses pemberdayaan berasal dari rakyat dan untuk rakyat dengan didukung oleh pemerintah bersama masyarakat (Pranaka dan Prijono, 1996).
Pemberdayaan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Tetapi yang menjadi subyek dari pemberdayaan adalah masyarakat. Sehingga masyarakat yang harus berperan aktif, dan mengeluarkan aspirasinya demi kelancaran proses pemberdayaan. Usaha pemberdayaan ditujukan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri, tidak ketergantungan, dan mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Pemerintah sebagai fasilitator berkewajiban untuk memberikan pembelajaran dan pengetahuan bagi masyarakat untuk membangun tingkat kemandirian (Wijaya, 2010). Diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan tentang konsep pemberdayaan dan memiliki pemikiran yang matang untuk mengembangkan usaha, serta memiliki daya saing.

KESIMPULAN
Pembangunan di Indonesia bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan inovasi di didalam masyarakat. Pemberdayaan (empowerment) masyarakat merupakan salah satu program yang digalakkan oleh pemerintah untuk membangkitkan UKM (Usaha Kecil Menengah). Dengan adanya program tersebut diharapkan UKM di Indonesia mampu menjadi kekuatan ekonomi nasional. Pemberdayaan dimaksudkan untuk menjadikan masyarakat yang mandiri, bebas dari ketergantungan, dan mampu mengembangkan perekonomian. Pembangunan dapat berjalan dengan baik apabila pihak pemerintah dan masyarakatnya saling mendukung. Dukungan masyarakat dalam proses pembangunan dengan melalui aktivitas pemberdayaan yang dilakukan secara kontinyu. Pemberdayaan masyarakat berpusat pada masyarakat, oleh sebab itu masyarakatlah yang memiliki peranan aktif dalam upaya pemberdayaan tersebut.
Masyarakat memiliki wewenang dan hak untuk menentukan usaha apa yang akan dikembangkan, karena masyarakat lokal lebih mengetahui kondisi dan potensi daerah mereka. Pemerintah sebagai fasilitator berkewajiban untuk memberikan dukungan, pengetahuan, pengajaran, dan penyuluhan kepada masyarakat demi kesuksesan program pemberdayaan masyarakat. Pemerintah harus selalu memberikan pendampingan kepada masyarakat agar sumber daya alam dan sumber daya manusianya dapat dikembangkan dengan maksimal. Sumber daya alam di Indonesia banyak yang belum dimanfaatkan dengan baik, untuk itu masyarakat yang dibantu oleh pemerintah harus mampu menggali dan mengoptimalkan potensi yang ada. Pengetahuan tentang konsep pemberdayaan juga harus dipahami dengan benar oleh masyarakat, agar masyarakat mampu mengembangkan usaha sesuai dengan potensi yang ada didaerahnya dan memiliki daya saing untuk menghadapi pangsa pasar. Pemberdayaan masyarakat yang baik akan menghasilkan masyarakat yang mandiri, bebas dari ketergantungan dan keterbelakangan. Dan mampu menjadi kekuatan ekonomi nasional.
 
DAFTAR PUSTAKA
Humas. 2012. Krimpying Yu Kas Mendapat Pendampingan GMP. http://www.purworejokab.go.id diakses pada tanggal 31 Oktober 2012.
Kartasasmita, Ginanjar. 1995. Pemberdayaan Masyarakat. Kumpulan Materi Community Development: Pustaka Pribadi Alizar Isna.Msi.
Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial : Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial. Jakarta: Rajawali Press.
Pranaka, A.M.W., dan Onny  S.  Prijono, (eds.).  1996. Pemberdayaan:  Konsep,  Kebijakan  dan  Implementasi. Jakarta: CSIS.
Tjokrowinoto, Moeljarto. 1996. Pembangunan: Dilema dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wijaya, Mahendra. 2010. Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Journal of Rural and Development FISIP Universitas Sebelas Maret diakses pada tanggal 27 Oktober 2012.

Minggu, 10 Maret 2013

Mungkinkah Indonesia Memutuskan Hubungan dengan AS


Mungkinkah Indonesia memutuskan hubungan dengan AS? 
(strategi dan dampak sosial-ekonominya)

Sejak era orde baru sampai saat ini Indonesia tengah dihadapkan dengan berbagai persoalan terkait dengan sistem pemerintahan dan pembangunannya. Sistem pemerintahan Indonesia di era reformasi ini dianggap telah gagal. Terbukti dengan banyaknya fakta yang mencerminkan  bahwa Indonesia belum mampu menjalankan sistem pemerintahan dengan baik. Sebagai contoh  kasus korupsi yang telah menjadi sebuah budaya, eksploitasi sumber daya alam oleh Negara asing, kemiskinan yang belum teratasi sampai saat ini, jumlah pengangguran yang terus meningkat, impor bahan makanan pokok (kedelai dan beras), dsb. Sudah 67 tahun Indonesia merdeka, tapi masih terasa dijajah oleh Negara Asing. Kegagalan Indonesia dalam menjalankan sistem pemerintahannya ternyata dimanfaatkan oleh Amerika Serikat (AS). Pasca presiden Soekarno, Indonesia berada dalam cengkeraman asing (Amerika), pemerintahan Orde Baru berada di bawah kendali Amerika, melalui lembaga-lembaga internasional-nya seperti IMF, Bank Dunia, USAID (wardaya, 2008). Ditengah kondisi yang tidak karuan ini, AS hadir menawarkan berbagai bantuan untuk Indonesia. Mulai dari IMF,  World Bank, dan USAID (United States Agency for International Development). AS selalu ingin ikut campur dengan berbagai urusan Indonesia, dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, dsb. Memang tidak dipungkiri bahwa AS memberikan bantuan yang sangat besar terhadap Indonesia, dalam proses pembangunannya. Seperti yang dikatakan oleh Sumawinata (dalam Suwarsono dan So, 1984) bahwa dalam percepatan dan perluasan pembangunan industrialisasi, Indonesia banyak membutuhkan bantuan modal dan tekhnologi asing. Tekhnologi dalam berbagai proses produksi untuk memudahkan dalam proses produksi. Peningkatan penggunaan tekhnologi dalam berbagai bidang mengakibatkan minimnya penggunaan tenaga kerja manusia. Ketergantungan terhadap luar negeri telah menghasilkan pula keputusan untuk menerapkan tekhnologi produksi yang tidak proburuh di sektor pertanian tradisional yang surplus tenaga kerjanya, yang sudah berakumulasi sejak puluhan tahun (Arief dan Sasono, 1984). Penggunaan tekhnologi dalam sector pertanian misalnya penggunaan traktor. Dahulu pembajakan sawah menggunakan tenaga kerbau, tetapi sekarang banyak yang menggunakan traktor karena lebih mudah dan efektif.
Bantuan modal yang diberikan oleh AS untuk Indonesia tidak sedikit sehingga Indonesia merasa berhutang budi kepada AS, sikap seperti inilah yang menjadikan Indonesia selalu bergantung kepada Negara adikuasa tersebut. Seolah-olah Indonesia tidak bisa hidup tanpa AS. Indonesia dan Amerika Serikat ibarat kelas proletar dan kelas borjuis. Kelas proletar (Indonesia) dikuasai kelas borjuis (AS) yang menyebabkan kelas proletar menjadi tergantung dengan kelas borjuis yang memiliki modal yang kuat (Martono, 2011).
Dengan ketergantungan Indonesia terhadap AS menjadikan Indonesia sulit berkembang dalam pembangunan dan menghambat proses menuju Indonesia mandiri. Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, seharusnya Indonesia sudah mampu menjalankan sistem pemerintahan dengan baik. Tapi yang terjadi saat ini malah sebaliknya, sistem pemerintahan yang ketergantungan. Menurut Dos Santos (dalam Arief dan Sasono, 1984) ada tiga jenis ketergantungan, pertama ketergantungan Kolonial ditandai dengan hubungan perdagangan ekspor, kedua ketergantungan industri keuangan dengan adanya investasi bahan mentah primer untuk tujuan konsumsi , dan ketiga ketergantungan tekhnologi industri melalui investasi di sektor-sektor industri oleh Negara yang memiliki modal besar. Negara Indonesia selalu mengandalkan bantuan dari AS. Hutang Indonesia kepada AS juga terbilang tidak sedikit lagi, hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai boneka Amerika dan mau tidak mau Indonesia harus tunduk kepada AS.
Indonesia dan amerika mempunyai hubungan yang sangat erat bahkan ketergantungan dalam berbagai bidang termasuk bidang ekonomi, sebagai contoh perpanjangan masa kontrak PT. Freeport oleh AS. Padahal sudah jelas bahwa didalam proyek Freeport tersebut Indonesia hanya mendapatkan keuntungan yang kecil dibandingkan keuntungan yang diperoleh oleh AS. Pihak yang menikmati keuntungan yang ditimbulkan oleh investasi asing ini, hanya terdiri dari segelintir kecil anggota masyarakat dan keuntungan ini diperoleh dari hasil suatu proses eksploitasi (Arief dan Sasono, 1984). Eksploitasi lahan dan kerusakan lingkungan juga menjadi dampak negatif yang harus diderita oleh masyarakat papua. Indonesia seolah-olah menutup mata dalam persoalan tersebut, dengan terus membiarkan AS mengeruk kekayaan alamnya dan membiarkan rakyatnya menderita.
Di era modernisasi seperti saat ini persaingan antar Negara sangat ketat. Masing-masing Negara menunjukkan eksistensinya di dunia dengan menampilkan perkembangan-perkembangan negaranya.
Indonesia harus bisa melepaskan diri dari AS strateginya dengan membenahi system pemerintahan Negara, memberantas berbagai tindakan korupsi, memaksimalkan potensi SDA, meningkatkan perekonomian Negara, mengurangi impor bahan makanan, dan bangga akan produk dalam negeri. Untuk melepaskan diri dari cengkeraman AS mungkin memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu dan proses panjang untuk mewujudkan hal itu. Karena seperti yang kita ketahui bahwa selama ini AS telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia. Dibutuhkan pemimpin yang tegas dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Jiwa kepemimpinan tersebut seperti yang dicontohkan oleh presiden pertama Indonesia Soekarno. Landasan kepemimpinan Soekarno dibangun atas dasar nasionalisme, Islam dan Marxisme. Nasionalisme yang tumbuh dalam dirinya telah menanamkan rasa persatuan dan cinta Tanah Air sekaligus menjadikan dirinya menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, sementara ideologi Marxisme yang dikembangkannya membuat dirinya memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet dan menanamkan jiwa anti hegemoni dan imperialisme Barat (wardaya, 2008). Sekarang ini indonesia membutuhkan jiwa kepemimpinan seperti Soekarno yang cinta dan bangga akan bangsanya. Soekarno telah membawa Indonesia dikenal dan disegani oleh Negara-negara asing, dan soekarno mampu memimpin Indonesia dengan baik. Upaya pemberantasan korupsi juga harus terus digalakkan. Pendidikan tentang korupsi sebisa mungkin ditanamkan sejak dini, sejak masih anak-anak supaya tidak menjadi generasi penerus bangsa yang korup.
Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam, sumber daya alamnya melimpah. Tetapi pemanfaatan SDA masih sangat minim, untuk itu terus gali dan tingkatkan kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah guna peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. SDMpun juga harus terus ditingkatkan, mengingat banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia. Peningkatan SDM dimaksudkan untuk melahirkan generasi-generasi yang kompeten dan mampu bersaing terutama dalam dunia kerja.